Menjelajahi Monjali, Monumen Bersejarah Di Yogyakarta

    1 72
    Menjelajahi Monjali, Monumen Bersejarah Di Yogyakarta

    Kota Yogyakarta sudah terkenal dengan julukan kota perjuangan, kota pelajar, juga kota budaya. Jika anda sudah bosan dengan wisata Keraton Ngayogyakarta, ada alternatif wisata lain yang bisa anda kunjungi, salah satunya tempat-tempat wisata di daerah Sleman.

    Jika anda ingin berwisata ke daerah Sleman, anda bisa datang ke museum Monumen Jogja Kembali, atau yang lebih dikenal dengan akronim Monjali, letaknya di dusun Jongkang, Sariharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Museum ini dibangun 29 juni 1985, peletakkan batu pertama dari monumen setinggi 31,8 meter dilakukan oleh Sri Sultan HB IX setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, bangunan ini selesai dibangun, pembukaannya diresmikan oleh Presiden Suharto dengan penandatanganan Prasasti.

    Bentuk monumen ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu bentuk fisik yang menyerupai nasi tumpeng, dengan ujung lancip/runcing mirip bentuk sebuah gunung. Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis, yang bermakna Poros Makro Kosmos atau Sumbu Besar Kehidupan.

    Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa yang dikenal dengan 6 jam di Yogyakarta yang dieksekusi oleh Letkol Soeharto dengan penggagas ide Sri Sultan HB IX. Peristiwa itu dimaknai sebagai titik pijak perundingan kembalinya kedaulatan republik Indonesia, hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 secara resmi Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.

    Di pintu masuk Monumen, para pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur, serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki podium bangunan, pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya. Di ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949, serta puisi Karawang – Bekasi karangan Chairil Anwar yang didedikasikan untuk para pahlawan yang tidak diketahui namanya.

    Monumen ini dikelilingi oleh kolam (jagang) yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum yang menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, peristiwa perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibu-kota RI.

    Ada pula seragam tentara pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Di samping itu, ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya di sebelah ruang museum I. Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, dan biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.

    Sementara itu jalan utara dan selatan terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Sejumlah peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan, kembalinya Presiden dan Wakil Presiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat ter gambar di relief tersebut.

    Di dalam bangunan, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.

    Lantai teratas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka. Museum Monumen Yogya Kembali ini layak untuk anda jadikan daftar kunjungan wisata anda ke kota yogyakarta.

    Setelah seharian menjelajahi museum Monumen Yogya Kembali, untuk menghilangkan penat dan lelah anda bisa booking hotel murah secara online disekitar daerah Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Disini anda bisa beristirahat di Indoluxe hotel Jogja, cukup dengan klik reservasi.com untuk melakukan booking dan pesan kamar hotel.

    Selamat berpetualang & berwisata di Yogyakarta.

    1 COMMENT

    1. Setelah baca artikel jadi pengen jalan-jalan di monumen monjali (Monumen Jogja Kembali) kapan lagi bisa jalan-jalan sambil mengenang jasa para pahlawan. btw nice article thanks for sharing

    Tinggalkan Balasan