Beranda Berita Diare, Kenali Jenis Dan Penatalaksanaannya

Diare, Kenali Jenis Dan Penatalaksanaannya

225
0

DIARE merupakan gangguan umum pada saluran cerna yang dapat menyebabkan hilangnya cairan dan ketidakseimbangan asam-basa. Keadaan ini ditandai oleh keluarnya tinja yang sangat cair, seiring dengan peningkatan frekuensi defekasi.

Tidak hanya sebagian bahan yang ditelan hilang, tetapi sebagian produk sekretorik yang harusnya direabsorbsi juga hilang. Pengeluaran berlebihan ini menyebabkan dehidrasi, hilangnya nutrient, dan asidosis metabolic karena keluarnya HCO3-.

Sifat tinja yang encer ini biasanya disebabkan karena usus halus tidak bisa menyerap cairan sebanyak normalnya. Beban cairan dan elektrolit yang berlebihan memasuki kolon, sehingga dapat melampaui kemampuan absorbsi. Cairan berlebihan yang tidak terserap ini kemudian keluar bersama tinja.

Diare disebabkan oleh beberapa hal, diantara lain:

  1. Penyebab tersering diare adalah kemampuan usus halus untuk berkontraksi dan mengalirkan makanan yang dicerna yang terjadi secara berlebihan, yang disebabkan oleh iritasi dinding usus halus oleh bakteri atau virus atau faktor emosional berupa stress. Karena makanan melewati usus halus dengan cepat, maka penyerapan tidak sempurna.
  2. Diare juga dapat terjadi ketika partikel-partikel osmotik aktif terdapat dalam jumlah berlebihan seperti pada saat defisiensi lactase (kekurangan enzim pemecah disakarida laktosa), di saluran cerna. Partikel ini membuat cairan tertahan di lumen sehingga fluiditas tinja meningkat.
  3. Racun bakteri penyebab kolera (Vibrio cholera) dan mikroorganisme lain yang mendorong sekresi cairan dalam jumlah berlebih oleh mukosa usus halus sehingga terjadi diare hebat.

Diare dapat diklasifikasikan dalam 4 macam:

  1. Secretory diarrhea ditandai dengan buang air besar isotonik dan berlanjut pada saat puasa.
  2. Osmotic diarrhea, terjadi apabila terdapat defisiensi laktase, karena kekuatan osmotic yang begitu besar yang dikeluarkan dari larutan luminal. Cairan diare lebih terkonsentrasi di atas 50 dari pada plasma dan mereda pada saat puasa.
  3. Malabsorptive diarrhea merupakan kelanjutan dari ketidakmampuan absorbsi nutrisi dan berhubungan dengan steatorrhea dan diredakan dengan berpuasa.
  4. Exudative diarrhea karena penyakit peradangan dan ditandai dengan buang air besar yang bernanah dan berdarah, berlanjut pada saat puasa.

Diare dapat ditangani melalui beberapa cara yang bertujuan untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi. Penderita diare tanpa tanda-tanda dehidrasi memerlukan tambahan cairan dan garam untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare.

Jika ini tidak diberikan, tanda-tanda dehidrasi dapat terjadi. Pencegahan terjadinya dehidrasi pada penderita diare dapat dilakukan dengan memberikan oralit osmolaritas rendah. Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat diare.

Walaupun air sangat penting untuk mencegah dehidrasi, air minum tidak mengandung garam dan elektrolit yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga lebih diutamakan Oralit. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam Oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare.

Dalam penanganan kasus diare yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti Vibrio cholera, dapat menggunakan terapi rehidrasi oral (TRO). Kolera dan sebagian besar mikroba penyebab diare menimbulkan diare yang menganggu proses penyerapan natrium, akibatnya banyak cairan yang disekresikan dari darah ke lumen daripada cairan yang seharusnya dikembalikan kembali ke darah.

Hasil akhir dari penggunaan TRO ini adalah penyerapan garam dan H2O yang disekresikan bersama dengan nutrient yang telah tercerna, sehingga tidak hanya terjadi penghematan cairan yang disekresikan ke darah tetapi juga absorbsi tambahan garam dan H2O.

Selanjutnya ada beberapa hal lain yang dapat digunakan dalam penanganan diare pada penderita:

  1. Memberikan penderita lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi. Gunakan cairan yang dianjurkan seperti oralit, makanan yang cair dan atau air matang. Berikan larutan ini sebanyak yang dibutuhkan penderita dan teruskan hingga diare berhenti.
  2. Pemberian suplemen Zinc,Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Disamping itu, mikronutrien Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare. Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun si penderita telah sembuh dari diare.
  3. Pemberian dukungan nutrisi kepada penderita untuk mencegah kurang gizi. Disesuaikan dengan umur si penderita dan kebutuhannya.
  4. Membawa penderita ke rumah sakit/layanan kesehatan apabila terjadi gejala-gejala seperti sesak napas, mencret berlebihan, dan terdapat tanda-tanda dehidrasi.

* Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti (di bawah bimbingan dr Reza Aditya Digambiro, M.Kes, M.Ked (PA), Sp.PA).

Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Artikel sebelumyaLima Kebiasaan Diet Yang Buruk Dari Wanita
Artikel berikutnya4 Pertimbangan Penting Sebelum Membeli Rumah yang Dijual di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here