Kebahagiaan Wanita Ditentukan Gen Ini

Kebahagiaan Wanita Ditentukan Gen Ini

0 127

PERNAHKAH Anda bertanya-tanya dari mana rasa bahagia muncul?

Mengutip dari everydayhealthy.com (28/08/2012), sebuah studi mengenai Progress in Neuro-Psychopharmocology & Biological Psychiatry yang dirilis pada Juli 2012 menemukan bahwa gen MAOA (monoamine oxidase A) atau yang dikenal dengan warrior gene (untuk keterkaitannya dengan alkohol, sikap agresif, dan kebiasaan anti-sosial) ternyata berhubungan erat dengan tingkat kebahagiaan wanita atau perempuan dewasa.

Menurut Henian Chen dari Universitas South Florida, ini merupakan kali pertama identifikasi gen kebahagiaan pada wanita. Hal ini sangat penting, karena begitu banyak penelitian terkait untuk penderita penyakit mental, namun masih sedikit untuk orang-orang yang normal atau sehat.

Tim Chen melakukan pengamatan kepada 193 wanita dan 152 pria. Seluruh peserta berpartisipasi dalam sebuah uji kesehatan mental dan uji DNA untuk analisis variasi gen MAOA. Kebahagiaan diukur dengan indikator yang dikembangkan oleh peneliti dari Universitas California Riverside dengan mengontrol beberapa faktor termasuk usia, pendidikan, dan pendapatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan gen MAOA lebih bahagia dibandingkan wanita tanpa gen MAOA. Sementara untuk pria dengan bawaan gen yang sama, tidak mengarah pada kondisi demikian (lebih bahagia). Hal ini karena wanita memiliki hormon testosteron yang lebih rendah. Menurut mereka, tingkat testosterone yang tinggi dapat menetralisir efek kebahagiaan dari gen MAOA. Karena itu ini tidak bekerja pada pria.

Satu hal lagi yang mengejutkan adalah gen MAOA tersebut yang memiliki asosiasi negatif dengan alkohol, sikap agresif, dan kebiasaan anti-sosial. Ini membuktikan istilah yang sering kita dengar money cant buy happiness, kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Chen menemukan bahwa seseorang tidak menjadi lebih bahagia ketika pendapatan mereka meningkat.

“Penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa pendapatan bukan merupakan indikator kebahagiaan seseorang. Meskipun untuk objek yang tidak berpenghasilan (unemployment), tingkat kebahagiaan mereka berkurang. Perlu ada studi lebih lanjut terkait dengan hal ini. Pasti ada gen yang lebih spesifik yang berkaitan dengan kebahagian dalam diri seseorang.”

* An Nisaa Gettar, relawan kesehatan RS Ibnu Sina, Jakarta.

Sumber: http://gayahidup.inilah.com

NO COMMENTS

Tinggalkan Balasan