Mengenal Bakteri Anti-antibiotik Superbug

Mengenal Bakteri Anti-antibiotik Superbug

0 110

PADA 27 Mei 2016, Amerika Serikat dikejutkan kembali dengan ditemukannya pasien yang terinfeksi Superbug. Hal tersebut diperburuk ketika uji gen MCR-1, yaitu genetik yang membuatnya resisten dengan Colistin, dinyatakan positif.

Colistin merupakan antibiotik lini terakhir apabila antibiotik-antibiotik lain gagal.Kejadian serupa terjadi di China pada 2015 melalui pemeriksaan sample daging pada pasar-pasar dan pasien.

Superbug atau biasa dikenal Multidrug-resistant bacterium merupakan sebutan untuk bakteri yang menjadi resisten terhadap antibiotik yang biasa dipakai untuk mengobatinya. Terbentuknya resistensi dapat disebabkan karena bakteri penyakit yang tidak tuntas mati oleh antibiotik (pemakaian antibiotik tidak tuntas atau adekuat) sehingga membentuk resistensi atau dapat pula bakteri flora normal (normal pada tubuh) yang membentuk resistensi dan memberikan sifat genetiknya kepada bakteri lain.

CDC mengkategorikan ancaman tersebut yaitu: Urgent, Serious dan Concerning. Kategori ancaman dilihat dari kemampuan untuk menyebarkan kemampuan resistensi dan cepatnya muncul resistensi dengan Urgent yang paling bahaya. Yang tergolong Urgent adalah C.difficile, Carbapenem-Resistant Enterobacteriaceae (CRE), dan Neisseria gonorrhoeae.

Untuk menambah daftar ancaman, E.coli (termasuk CRE) yang menjadi penyebab tersering infeksi saluran kemih dan diare ditemukan resistensi genetik tidak hanya terhadap Carbapenem (NDM-9) namun Colistin (MCR-1) juga, dimana keduanya adalah lini terakhir antibiotik.

Dengan semakin meningkatnya resistensi antibiotik sejak 2012, mulai dari Tuberkulosis, HIV, dan penyakit infeksi lainnya, memicu pergerakan baik penelitian antibiotik baru, tenaga medis, industri, pemerintahan pada multisektorial dan masyarakat sendiri. Akan tetapi, penelitian antibiotik baru masih sangat minim, terutama dikarenakan banyak yang bersifat toksik bagi manusia, dinetralisir tubuh, pengalihan dari bakteri ke hewan/tanaman, atau masih tahap eksperimen atau masalah biaya.

Sebagai gantinya, kontribusi masyarakat dan tenaga medis menjadi sangat besar, karena kejadian ini bisa dibilang mengingatkan kembali pentingnya pemakaian antibiotik secara tepat. Dari segi tenaga medis adalah kembali kepada pemberian obat yang rasional, berdasarkan guidelines dan edukasi terhadap pasien. Untuk masyarakat, diharapkan selalu mematuhi anjuran dokter, memakai antibiotik bila perlu dan dihabiskan sesuai resep, serta menghindari penyebab infeksi sendiri (memasak sampai matang, mencuci dan lainnya)

* Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, TRIFIC (di bawah bimbingan dr Reza Aditya Digambiro, M.Kes, M.Ked (PA), Sp.PA).

Sumber: http://gayahidup.inilah.com

NO COMMENTS

Tinggalkan Balasan