Beranda Berita Penularan TB Paru Tergantung Daya Tahan Tubuh

Penularan TB Paru Tergantung Daya Tahan Tubuh

210
0

TUBERKULOSIS paru (TB) merupakan penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang bersifat tahan asam sehingga jika seseorang telah terinfeksi bakteri ini memerlukan waktu yang relatif lama untuk proses penyembuhannya. Kuman ini paling sering menginfeksi organ paru-paru.

Penyakit TBC sangat mudah menular melalui udara yang tercemar oleh bakteri Mycobacterium Tubeckulosa yang keluar ketika penderita batuk atau bersin dan tanpa sengaja terhirup oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi tidak semua orang yang tanpa sengaja menghirup udara yang tercemar oleh bakteri tersebut akan sakit penyakit TBC. Hal ini tergantung pada tingkat daya tahan tubuh seseorang.

Biasanya orang yang mudah tertular penyakit TBC adalah orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah serta orang yang kekurangan gizi. Selain itu lingkungan yang kurang baik juga akan berdampak negatif bagi orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga mereka dengan mudah terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosa.

Gejala TBC berupa demam yang timbul pada sore dan malam hari yang disertai dengan berkeringat, pegal-pegal, rasa lelah, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, batuk berdahak ataupun batuk kering yang berlangsung selama lebih dari 2 sampai tiga minggu. Batuk juga terkadang mengeluarkan darah akibat perdarahan pada saluran napas.

Penderita TB harus diobati dan pengobatannya dilakukan minimal 6 bulan untuk nonkomplikata. Pada awalnya, sekurang-kurangnya digunakan tiga obat, untuk mencegah perkembangan strain dan resisten. Obat yang dianjurkan adalah rifampisin, pirazinamid, dan isozianid selama 2 bulan, diikuti rifampisin dan isoniazid selama 4 bulan.

Pencegahan TB dengan cara memberikan vaksinasi BCG secara rutin pada balita. Pasien juga harus diberitahu bahwa dia terdiagnosis TB untuk mencegah penyebaran. Lakukan pula kontak diskrining dengan tes Heaf. Jika tes ini menunjukkan suatu risiko infeksi, maka radiografi dada dan tindak lanjut yang sesuai harus dijadwalkan.

* Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, di bawah bimbingan dr Reza Aditya Digambiro, M Kes, M Ked (PA), Sp.PA.

Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Artikel sebelumyaPentingnya Negosiasi Bisnis bagi Karyawan dalam Bahasa Inggris
Artikel berikutnya3 Cara Mengatasi Mata Min Yang Effektif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here